Desa Mudal di Kecamatan Boyolali tampak berbeda dari biasanya. Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Tani terlihat antusias menyambut momen penting: panen perdana hasil uji coba budidaya Bawang Bombay yang dimulai sejak 18 Juli. Dari lahan percontohan seluas kurang lebih 200 meter persegi, berhasil dipanen sebanyak 1.388 kilogram Bawang Bombay dalam kondisi basah. Jika dikonversikan, angka tersebut setara dengan produktivitas 47 ton per hektar—sebuah hasil yang sangat menjanjikan untuk komoditas baru di wilayah ini. “Ini bukti bahwa Bawang Bombay bisa tumbuh subur di Boyolali,” ujar salah satu petani dengan wajah ceria. Panen kali ini juga dimanfaatkan sebagai percontohan, dengan pengambilan sampel hasil (ubinan) di tiga titik berukuran masing-masing 1×1 meter. Dua varietas yang ditanam adalah “Trophy ON 6” dan calon varietas “Trophy ON 1”, ditanam dari biji dan dipanen dalam waktu 90 hari. Bila dijual dalam bentuk kering, nilai jual Bawang Bombay bisa meningkat, apalagi harga impor saat ini berkisar Rp17.000 per kilogram.

Panen tersebut dirayakan dalam sebuah acara yang digelar langsung di lahan demplot Desa Mudal. Tak hanya para petani yang hadir, acara ini juga diikuti oleh sejumlah pihak seperti Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Camat Boyolali, perwakilan dari PT Agrosid Primasid, Yayasan Migunani, serta Kelompok Tani Ledok Tani I dari Desa Mliwis, dengan jumlah peserta sekitar 40 orang.
Dalam kesempatan itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian, Bapak Suyanta, SP., MM., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan panen. Ia mendorong agar praktik budidaya ini dapat disebarluaskan ke kelompok tani lain, sehingga produksi Bawang Bombay bisa diperluas dan kebutuhan lokal dapat terpenuhi dari hasil pertanian daerah sendiri. Sementara itu, pihak Yayasan Migunani menilai Desa Mudal memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi Bawang Bombay, bahkan sebagai pemasok untuk wilayah lain.

Lebih dari sekadar uji coba, panen ini menjadi bukti nyata bahwa diversifikasi pertanian membuka peluang baru bagi para petani. Selama ini, Bawang Bombay masih tergolong komoditas impor di Indonesia. Jika pengembangannya di Boyolali terus berjalan sukses, bukan tidak mungkin suatu saat produk lokal ini bisa bersaing di pasar nasional, bahkan merambah pasar internasional. Dengan kolaborasi antara petani, pemerintah, dan mitra swasta, harapan tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan.